Mengapa Indonesia Perlu Keluar dari Board of Peace: Ketika Forum Perdamaian Justru Dipimpin Negara yang Memulai Perang
Ketegangan Iran, ancaman blokade Selat Hormuz, dan kapal tanker Indonesia yang tertahan memunculkan pertanyaan serius: apakah Indonesia sebaiknya keluar dari Board of Peace yang digagas Amerika?
DUNIA ISLAMSUDUT PANDANG
3/6/20264 min read


Selat Hormuz, jalur energi dunia yang kini berada di tengah ketegangan geopolitik
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan terhadap Iran. Dampaknya tidak hanya terasa di kawasan tersebut, tetapi juga mulai menyentuh kepentingan negara lain, termasuk Indonesia.
Salah satu dampak langsung adalah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi salah satu arteri utama perdagangan minyak dunia. Ketika konflik meningkat, muncul kekhawatiran bahwa jalur tersebut dapat terganggu atau bahkan diblokade.
Bagi Indonesia, ini bukan sekadar isu jauh di Timur Tengah. Beberapa laporan menyebutkan bahwa dua kapal tanker yang membawa minyak untuk Indonesia sempat tertahan di kawasan tersebut akibat meningkatnya risiko keamanan.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan yang lebih besar: di tengah konflik yang semakin luas di Timur Tengah, apakah keputusan Indonesia untuk bergabung dalam Board of Peace (BoP) masih relevan?
Sebagian besar perdagangan minyak dunia melewati Selat Hormuz.


Palestina: Luka Kemanusiaan yang Belum Selesai
Konflik di Timur Tengah tidak dapat dilepaskan dari persoalan Palestina yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Sejak berdirinya Israel pada 1948, jutaan rakyat Palestina kehilangan tanah, rumah, dan hak hidup yang layak. Wilayah Gaza berkali-kali mengalami serangan militer yang menimbulkan korban sipil dalam jumlah besar.
Sejarah panjang konflik ini membentuk salah satu krisis kemanusiaan paling kompleks di dunia saat ini.
Pembahasan lebih lengkap mengenai sejarah Palestina dan kota suci Al-Quds dapat dibaca pada artikel berikut:
https://tapisdigital.id/palestina-dan-al-quds-dalam-lintasan-sejarah
Konflik Palestina masih menjadi krisis kemanusiaan terbesar di Timur Tengah.


Masalah Utama BoP: Penggagasnya Tidak Netral
Board of Peace dipromosikan sebagai forum untuk menciptakan stabilitas dan perdamaian di Timur Tengah. Namun persoalan mendasar dari forum ini adalah siapa yang menggagasnya.
Amerika Serikat selama puluhan tahun dikenal sebagai sekutu utama Israel. Dukungan militer, bantuan finansial, dan perlindungan diplomatik Washington terhadap Israel sangat kuat.
Dalam berbagai forum internasional, Amerika juga beberapa kali menggunakan hak veto untuk melindungi Israel dari tekanan politik global.
Situasi ini membuat banyak pihak mempertanyakan apakah forum yang dipimpin oleh Amerika benar-benar dapat menjadi mediator yang netral dalam konflik Timur Tengah.
Keraguan tersebut semakin besar ketika melihat perkembangan terbaru di kawasan.
Ilustrasi: veto Amerika Serikat di Dewan Keamanan PBB sering menjadi sorotan dalam konflik Israel–Palestina.


Serangan terhadap Iran dan Eskalasi Konflik
Serangan terhadap Iran memperlihatkan bahwa konflik Timur Tengah masih jauh dari stabil.
Iran merupakan salah satu kekuatan besar di kawasan dengan pengaruh politik dan militer yang signifikan. Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel berpotensi memicu konflik yang lebih luas.
Dampaknya tidak hanya bersifat militer, tetapi juga ekonomi global.
Salah satu titik paling sensitif adalah Selat Hormuz.
Selat Hormuz: Jalur Energi yang Menentukan Ekonomi Dunia
Selat Hormuz adalah jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Meski kecil secara geografis, jalur ini memiliki peran yang sangat besar dalam perdagangan energi global.
Diperkirakan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati selat ini setiap hari.
Jika konflik meningkat dan jalur ini terganggu, dampaknya bisa terasa secara global: harga minyak melonjak, distribusi energi terganggu, dan ekonomi dunia ikut terpengaruh.
Negara seperti Indonesia, yang masih bergantung pada impor energi, tentu tidak kebal dari dampak tersebut.
Risiko Indonesia Menjadi Legitimasi Simbolik
Dalam konteks ini, muncul pertanyaan penting mengenai posisi Indonesia di Board of Peace.
Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan dikenal luas sebagai pendukung perjuangan Palestina.
Kehadiran Indonesia dalam forum seperti BoP dapat dengan mudah digunakan untuk menunjukkan bahwa inisiatif tersebut mendapat dukungan dari negara-negara Muslim.
Namun dalam praktik geopolitik, keputusan strategis sering kali tetap berada di tangan negara-negara besar yang memiliki kekuatan militer dan ekonomi dominan.
Jika demikian, negara lain berisiko hanya menjadi legitimasi simbolik, sementara arah kebijakan tetap ditentukan oleh kekuatan utama.
Mengapa Kebijakan Amerika di Timur Tengah Selalu Sama
Banyak orang bertanya mengapa kebijakan Amerika di Timur Tengah cenderung konsisten, meskipun presidennya berganti.
Jawabannya berkaitan dengan kepentingan strategis jangka panjang.
Bagi Amerika Serikat, Timur Tengah penting karena tiga hal utama:
keamanan Israel sebagai sekutu strategis
stabilitas jalur energi global
persaingan geopolitik dengan negara seperti Iran, Rusia, dan China
Karena kepentingan ini bersifat struktural, kebijakan Amerika di kawasan tersebut cenderung tidak berubah secara mendasar meskipun terjadi pergantian presiden.
Dengan kata lain, kebijakan tersebut lebih ditentukan oleh kepentingan geopolitik jangka panjang daripada oleh perubahan kepemimpinan politik.
Menjaga Konsistensi Diplomasi Indonesia
Indonesia memiliki reputasi internasional sebagai negara yang konsisten mendukung kemerdekaan Palestina dan memperjuangkan perdamaian dunia.
Namun reputasi tersebut hanya dapat dipertahankan jika kebijakan diplomasi Indonesia tetap selaras dengan prinsip-prinsip tersebut.
Jika sebuah forum internasional dipandang tidak netral atau berpotensi dimanfaatkan untuk kepentingan geopolitik tertentu, maka mengevaluasi bahkan meninggalkan forum tersebut dapat menjadi langkah yang wajar.
Keluar dari Board of Peace bukan berarti Indonesia meninggalkan komitmen terhadap perdamaian.
Sebaliknya, langkah tersebut dapat menunjukkan bahwa Indonesia tetap berpegang pada prinsip dasar: perdamaian harus dibangun di atas keadilan dan kemanusiaan.
Di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks, konsistensi moral justru menjadi salah satu kekuatan diplomasi paling penting bagi Indonesia.
Oleh: Redaksi TapisDigital
Artikel ini merupakan analisis redaksi mengenai perkembangan geopolitik global.
Artikel terkait
Berita dan artikel dengan perspektif inklusif.
Komunitas
Info Terkini
redaksi@tapisdigital.id
© 2026. All rights reserved.
